Sabtu, 27 November 2010

bunga yang hilang


"BRUUKK!!!" sebuah bola basket terjatuh ke lantai. 
"aku sangat bersyukur untuk kesekian kalinya". 
Hari itu wajah berbinar Bunga muncul kembali untuk kesekian kalinya,dia mendapatkan juara pemain terbaik untuk pertandingan basket di sekolahnya. Semua teman dan para sahabatnya menghampiri untuk turut mengungkapkan kebahagiaan mereka atas kemenangan Bunga. Setelah mereka tertawa ceria, satu per satu teman-teman Bunga pun pamit untuk pulang. Namun Bunga masih berdiri di tengah-tengah lapangan indoor sekolahnya. Sepertinya Bunga sedang menunggu sesuatu. Tak lama kemudian, ada seseorang menyodorkan sebotol air mineral ke hadapannya. 
“kamu pasti haus!” kata seseorang tersebut sembari menawarkan sebotol air mineral kepada Bunga. Tanpa menghiraukan semua itu, Bunga langsung memeluk erat seseoarang tersebut. Seakan kebahagiaannya belum sempurna bila tanpa orang tersebut. 
“Sela kamu dari mana? Dari tadi aku menunggumu!” ucap Bunga ketika di pelukan sahabat terbaiknya itu. Sela bukan hanya seorang sahabat bagi Bunga, namun dia juga merupakan seorang majikan yang harus dihormatinya. Ya, semua itu benar! Bunga hanyalah anak seorang pembantu yang bekerja di rumah Sela. Sebelum Bunga terlahir ke dunia, ayah dan ibunya telah menopang hidup pada keluarga Sela. Dari kecil, Sela dan Bunga telah hidup bersama. Mereka diasuh bersama tanpa dibedakan satu sama lainnya. Sehingga status antara majikan dan pembantu pun tak nampak dari mereka. Mereka bagaikan saudara yang menjalani suka-duka hidup bersama.
Tangis haru terpancar dari kedua bola mata Bunga, dia sangat bahagia dengan kehadiran Sela yang ikut menemani kebahagiaannya. 
“Sel, kenapa kamu baru datang sekarang?” Sela mendenguskan nafas bertanda dia tak ingin menjawab pertanyaan yang menurutnya sangat konyol itu. Namun untuk menghargai perasaan Bunga, akhirnya dia menjawabnya. “sepertinya pertanyaan kamu itu tak perlu dijawab, kamu tahu sendiri kan , aku paling tidak suka bercampur-baur dengan teman-teman yang lainnya" Jawaban yang di lontarkan Sela itu, sedikit melukai hati Bunga. Hal tersebut sudah tak asing lagi di telinga bunga. Mau tidak mau, Bunga harus menerima apapun kekurangan sahabatnya tersebut. Dia menyadari dan mencoba mengerti atas semua kejelekan dari sahabatnya yang sombong itu. Karena kesombongannya, tidak ada satu pun orang yang mau berteman dengan Sela. Hanya Bunga yang dimilikinya.

Setelah sedikit berbincang-bincang, kedua sahabat itu pun perlahan meninggalkan lapangan indoor tempat pertandingan dimana kejuaraan diraih Bunga. Tiba-tiba sesuatu yang aneh terjadi pada Bunga. Kepalanya terasa sakit bukan main. Penglihatannya pun mulai kabur. Tak lama kemudian, tubuh tinggi semampai itu pun terjatuh ke lantai. Sela sangat terkejut melihat sahabat yang paling dia sayangi tergeletak lemas di lantai. Sela sangat panik, dengan segera dia berlari keluar menemui sopirnya sekaligus ayah kandung dariBunga yang telah lama menunggu mereka di parkiran mobil. Akhirnya, Bunga dibawah ke rumah sakit. Bukan hanya orang tua Bunga yang menuggu di depan ruangan unit gawat darurat dimana tempat Bunga dirawat, namun orang tua Sela dan Sela sendiri ikut bersimpatik menunggu hasil pemeriksaan dokter terhadap Bunga.

Malam itu, situasi rumah sakit sangat hening. Detik demi detik berjalannya jarum jam pun terdengar sangat jelas seiring mengiringi kekhawatiran mereka terhadap kondisi Bunga. Pada saat itu, jarum jam menunjukkan hampir pukul tengah malam. Tak terdengar lagi suara keributan penghuni rumah sakit itu. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya keluarlah seorang dokter dari ruangan dimana tempat Bunga dirawat. Dengan tenangnya dokter tersebut menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Bunga. Setelah mendengar pernyataan dari dokter tersebut, mereka semua sangat terkejut dan tidak percaya. Ternyata selama ini Bunga mengidap penyakit kanker pada bagian otaknya. Dokter tersebut menyarankan agar mereka segera membawa Bunga ke salah satu rumah sakit terkenal di Singapura, agar Bunga mendapat pengobatan yang lebih mahir untuk penyakitnya tersebut. Sebab di Indonesia, tak ada satu pun rumah sakit yang sanggup merawat Bunga. Tak tau apa lagi yang harus di kata, hanya kesedihan yang terpancar dari raut wajah mereka. Bunga hanyalah anak seorang pembantu, tak mungkin orang tuanya mampu membiayai pengobatan Bunga di Singapura. Biaya rumah sakit di Indonesia saja, semuanya ditanggung oleh keluarga Sela. Orang tua Sela sudah mengganggap Bunga seperti anak mereka sendiri. Mereka bersedia membiayai semua pengobatan Bunga di Singapura. Beribu-ribu terima kasih dicurahkan orang tua Bunga kepada keluarga Sela. Akhirnya, Bunga pun diberangkatkan ke Singapura untuk mendapatkan pengobatan.

Sela sangat berduka atas kepergian Bunga ke Singapura. Tidak ada lagi orang yang setia menemani hari-harinya. Dia merasa sangat kehilangan. Namun dengan kepergian Bunga, mengantarkan Sela pada sebuah perenungan. Pahitnya hidup sendirian, tak ada teman, dan tak ada yang memperdulikan. Ingin rasa hati menjerit, ketika Sela melihat semua orang bercengkrama riang gembira bersama para sahabat dan teman-teman mereka. Ditengah-tengah ramainya penghuni sekolah itu, Sela hanya bisa terduduk lemas di sudut taman sekolahnya. Dia memperhatikan keramaian disekelilingnya, namun tak ada satu pun orang yang memperdulikan Sela yang dari tadi sedang membayangkan dan mengkhawatirkan keadaan orang yang biasanya duduk di sampingnya.

Ditengah teriknya matahari, Sela menyusuri jalan mengelilingi sekolahnya. Karena orang tua Bunga menemani perawatan Bunga di Singapura, jadi siang itu tak ada yang bisa menjemput Sela pulang sekolah. Dengan terpaksa dia harus naik taxi. Biasanya bila pulang sekolah, Sela dan Bunga langsung pulang bersama. Namun hari itu, Sela tidak langsung pulang ke rumah, dia masih melihat-lihat dan mengelilingi sekolahnya. Duduklah dia di sebuah bangku di depan sebuah ruangan. Dia tersenyum melihat tingkah-laku teman-temannya di ruangan tersebut. Datanglah seorang anak laki-laki berperawakan hitam manis menghampirinya dan menyapanya. Awalnya, Sela masih memperlihatkan keangkuhannya. Dia tidak menghiraukan anak laki-laki itu berbicara padanya. Namun lama kelamaan, dia tertarik dengan apa yang dibicarakan anak laki-laki tersebut. 
“oh, ternyata mereka sedang berakting!” kata pertama yang dilontarkan Sela kepada Ramon yang dari tadi bercerita tentang teman-temannya yang sedang latihan teater di ruangan tepat di depan mereka. 
“bagaimana keadaan Bunga?” Tanya Ramon untuk membuka situasi baru perbincangan mereka. Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Ramon tadi, Sela diam sejenak, lalu menjawab, ”aku tidak tahu pasti tentang keadaannya, yang jelas saat ini dia masih dirawat di Singpura”.
Perbincangan singkat antara Ramon dan Sela pada siang itu, membuka pintu hati Sela untuk bergabung dan mengenal linkungan sekelilingnya. Ramon memperkenalkan Sela kepada semua teman-temannya. Hari demi hari Ramon memberikan perubahan yang besar pada Sela. Satu bulan tidak terasa telah berlalu, seperti hari-hari sebelumnya,hari ini pun Ramon mengantar Sela pulang ke rumah sepulang sekolah. Saat Sela melangkah turun dari sepeda motor yang mengantarnya hingga ke depan rumahnya, Ramon melontarkan satu pertanyaan atas kepeduliannya pada Sela, “kelihatannya kamu sedang sedih, ada apa lagi Sela?” Sela hanya diam dan tak memperdulikan Ramon. Dia terus melangkah memasuki halaman rumahnya. Sela terduduk lemas di sebuah kursi di teras rumahnya. Tak lama kemudian, Ramon menyusul dan duduk di sampingnya. Ramon berusaha meyakinkan Sela agar mau menceritakan tentang kesedihan hatinya saat itu. Melihat usaha yang dilakukan Ramon, Sela hanya tersenyum dan mengajak Ramon duduk di ruang tamu rumah mewahnya. Sela menyuguhi minuman dan makanan kecil untuk tamu yang mungkin istimewa baginya. Setelah suasana tenang, akhirnya Sela menceritakan tentang kesedihan hatinya saat itu. Ternyata Sela sangat gundah karena besok adalah hari pulangnya Bunga dari Sinagpura. Namun, besok juga adalah hari dimana dia bertanding dalam perlombaan pidato untuk mewakili sekolahnya. Dia sangat ingin sekali menyambut kedatangan sahabat yang paling setia kepadanya itu. Mendengar hal itu, Ramon berusaha memberikan solusi yang terbaik agar sahabatnya yang satu ini bersemangat menghadapi perlombaannya besok.

Tibalah hari kekhawatiran Sela, dimana Sela berada ditengah-tengah antara dua pilihan. Pagi-pagi sekali Ramon, ketua umum eskul teater di sekolah mereka tersebut dengan sepeda motor sederhananya sudah tiba di halaman rumah Sela. Dengan semangat dan tanpa ragu Sela berangkat bersama Ramon menuju tempat perlombaan pidatonya. Perlombaan itu berjalan sangat mulus, hingga Sela membawa satu piala terbesar saat pulang ke rumah. Disamping semua itu, ternyata jadwal keberangkatan Bunga kembali ke Indonesia ditunda hingga nanti malam. Sela dan teman-teman yang lainnya mengatur siasat untuk menyambut kedatangan seseorang yang sangat dirindukan tersebut. Bersama-sama mereka menjemput Bunga di bandara. Ketika Bunga sampai di bandara, semua menyambut dengan riang gembira. Bunga pun sangat senang sekali melihat perubahan yang besar dari diri Sela. Lalu mereka berpelukan!
(original, by. Eka fitriyanti)